KTT PIF ke-55 Berlangsung di Tengah Persoalan Domestik dan Rivalitas AS-China
PALAU, Radarbanua.com - Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Pacific Islands Forum (PIF) ke-55 berlangsung di Koror, Palau, pada 31 Agustus 2026. Pertemuan para pemimpin negara dan pemerintahan kawasan Pasifik tersebut membahas sejumlah agenda strategis, mulai dari perubahan iklim, pembangunan ekonomi, keamanan, hingga implementasi 2050 Strategy for the Blue Pacific Continent.
KTT tahun ini mengusung tema “BELAU – Building Economies, Life, Action, Unity”. Agenda tersebut berlangsung di tengah dinamika politik domestik sejumlah negara anggota serta meningkatnya persaingan pengaruh antara Amerika Serikat dan China di kawasan Pasifik.
Sejumlah Pemimpin Negara Tidak Hadir
Menutu informasi Satu Suara Bangsa, sejumlah pemimpin negara anggota PIF tidak menghadiri KTT ke-55. Mereka antara lain Perdana Menteri Kepulauan Solomon Matthew Wale, Perdana Menteri Fiji Sitiveni Rabuka, Perdana Menteri Vanuatu Jotham Napat, Presiden Kiribati Taneti Maamau, serta pemimpin Samoa La’auli Leuatea Schmidt.
Ketidakhadiran para pemimpin tersebut berkaitan dengan berbagai kondisi domestik dan kendala perjalanan. Kepulauan Solomon, misalnya, tengah menghadapi dinamika politik dalam negeri terkait mosi tidak percaya terhadap pemerintah.
Sementara itu, Kiribati disebut memiliki agenda kabinet dan menghadapi kendala penerbangan menuju Palau.
Meski sejumlah pemimpin tidak hadir, agenda KTT tetap berjalan dengan pembahasan mengenai berbagai prioritas kawasan, termasuk pembangunan berkelanjutan, keamanan, ketahanan iklim, dan penguatan kerja sama regional.
Palau, Taiwan, dan Tekanan China
KTT PIF ke-55 juga berlangsung di tengah persaingan diplomatik antara China dan Taiwan di Pasifik.
Palau merupakan salah satu negara kepulauan Pasifik yang masih mempertahankan hubungan diplomatik dengan Taiwan. Menteri Luar Negeri Taiwan Lin Chia-lung turut hadir dalam rangkaian kegiatan KTT.
Kehadiran pejabat Taiwan tersebut mendapat penolakan dari China yang mempertahankan prinsip One China dan menolak hubungan diplomatik Taiwan dengan negara-negara lain.
Presiden Palau Surangel Whipps Jr. sebelumnya juga mengungkapkan adanya tekanan dari China menjelang pelaksanaan KTT. Tekanan tersebut antara lain berkaitan dengan hubungan ekonomi dan sektor pariwisata.
Persaingan China dan Taiwan di Pasifik tidak hanya berlangsung melalui hubungan diplomatik. Perdagangan, investasi, bantuan pembangunan, serta kerja sama ekonomi dan infrastruktur juga menjadi instrumen penting dalam membangun pengaruh di kawasan.
Australia Perkuat Hubungan dengan Negara Pasifik
Di tengah meningkatnya persaingan geopolitik, Australia terus memperkuat keterlibatannya dengan negara-negara kepulauan Pasifik.
Perdana Menteri Australia Anthony Albanese menekankan pentingnya peran Australia dalam membantu negara-negara Pasifik menghadapi tantangan kawasan. Kerja sama tersebut mencakup pembangunan infrastruktur, keamanan, perubahan iklim, serta penguatan ketahanan ekonomi.
Australia dan Selandia Baru selama ini menjadi mitra utama bagi banyak negara kepulauan Pasifik. Pada saat yang sama, China semakin meningkatkan keterlibatannya melalui kerja sama ekonomi, pembangunan, dan hubungan diplomatik.
Meningkatnya keterlibatan berbagai kekuatan tersebut menjadikan Pasifik sebagai salah satu kawasan yang semakin penting dalam dinamika geopolitik internasional.
Perubahan Iklim Tetap Menjadi Prioritas
Di luar persaingan geopolitik, perubahan iklim menjadi salah satu persoalan paling mendesak bagi negara-negara kepulauan Pasifik.
Kenaikan permukaan laut mengancam sejumlah negara kepulauan kecil, sementara perubahan pola cuaca dan bencana alam dapat memperbesar tekanan terhadap infrastruktur, pangan, energi, dan perekonomian.
Berdasarkan Westnoken, negara-negara di kawasan juga menghadapi tantangan lain, seperti biaya hidup, pengangguran, keterbatasan akses energi, serta kebutuhan pembangunan infrastruktur.
Kondisi tersebut membuat kerja sama internasional menjadi penting bagi negara-negara Pasifik untuk memperkuat ketahanan terhadap perubahan iklim dan mendukung pembangunan ekonomi.
Namun, kebutuhan terhadap bantuan dan investasi dari negara-negara besar juga berlangsung bersamaan dengan meningkatnya persaingan kepentingan geopolitik di kawasan.
Kepentingan Indonesia di Pasifik
Perkembangan KTT PIF menjadi perhatian bagi Indonesia karena kawasan Pasifik memiliki kedekatan geografis dan strategis dengan Papua.
Stabilitas Pasifik Selatan berkaitan dengan sejumlah kepentingan Indonesia, antara lain keamanan, ekonomi,

